Kebahagiaan yang Tidak Berubah [NC#9]

BukittinggiDulu waktu masih sekolah dasar, saya sudah bisa bahagia ketika bisa menikmati makanan ringan bernama krip-krip. Saat itu harganya masih 25 rupiah. Itulah makanan favorit saya. Tiada hari tanpa krip-krip. Saking sukanya, saya bela-belain makan diam-diam. Saat jam pelajaran. Tindak kriminal paling jahat yang saya lakukan saat itu. Dengan makanan seharga itu, saya sudah bisa bahagia.

Kemudian beranjak sekolah lanjutan pertama, kebahagiaan saya terletak pada satu sampai dua jam bermain Play Station. Jaman itu, saya dan beberapa teman sekelas sedang hobi-hobinya menyambangi rental PS. Kami rela berjalan kaki 3 km untuk bisa mendapatkan rental PS dengan sewa lebih murah. Hanya dengan 1 – 2 jam berman PS1, kami sudah sangat bahagia.

Saat sekolah menengah atas, kebahagiaan saya ada pada Sabtu siang. Hari terakhir sekolah pada pekan itu dan saya bisa pulang, meskipun melanggar aturan asrama. Pulang adalah kosa kata yang imej nya sama dengan indahnya kata “lebaran”. Hanya dengan ongkos Koto Baru – Kubang Putiah yang tak lebih dari 5000 rupiah, dan momen satu hari setengah di rumah, saya sudah bahagia sekali.

Saat kuliah, kebahagiaan saya ada di perpustakaan. Itu satu-satunya perpustakaan milik mahasiswa Indonesia di Kairo, dan saya bekerja di sana. Saya rela meninggalkan asrama mahasiswa yang berarti harus kehilangan porsi makan siang gratis yang disediakan asrama. Meski dihidang secara sederhana, porsi makan siang asrama saya lumayan mewah bagi mahasiswa: nasi, ayam, kacang, kari, susu, madu, yogurt, dan beberapa buah serupa apel, anggur, jeruk atau semangka. Book over food terdengar agak naif untuk mahasiswa miskin serupa saya, namun, menghabiskan waktu di perpustakaan adalah kebahagiaan saat itu.

Semua kebahagiaan di atas, boleh dibilang gratis atau tidak harus mengeluarkan uang yang lebih dari 10 ribu rupiah.

Namun, setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, beberapa kebahagiaan itu berganti. Krip-krip, saya tak tahu bisa beli dimana makanan itu. Namun saya pernah mencoba makanan serupa yang lebih mahal, dan saya tak beroleh kebahagiaan di sana. Saya instal emulator PS1 di PC dan mencoba memainkan game-game yang saya sukai dulu, tidak ada kebahagiaan di sana. Alih-alih bahagia, mata saya sakit melihat game dengan resolusi demikian. Perpustakaan? Saya sengaja pindah ke Depok supaya lebih dekat dengan perpus UI dan saya masih mengantongi kartu mahasiswa, which is free entry. Setelah 6 bulan di Depok, baru sekali saya ke perpustakaan. Kebahagiaan yang sama saya rasakan saat di Kairo, tidak saya temui di sini.

Kecuali satu. Kebahagiaan saat pulang. Itu tak pernah tergantikan. Kebahagiaan kepada benda memiliki standar yang gampang sekali berubah-ubah. Namun, kebahagiaan kepada value memenangkan hati. Hari ini, saya kembali menikmati udara Bukittinggi dan kebahagiaan yang saya dapatkan sama indahnya dengan saat pulang dari asrama kala sekolah dulu.

Agam, 6.44 am

Leave a Reply