Antara Karir dan Ibadah [NC#10]

Sebenarnya saya tidak tahu akan menulis apa hari ini. Kemarin satu hari saya sama sekali tidak menulis. Kata orang, hal-hal yang “terlalu” tidak baik buat otak. Terlalu sedih membuat kita sulit berpikir, demikian juga terlalu bahagia. Dua hari terakhir ini agaknya saya terlalu bahagia sehingga pikiran menjadi random dan bingung apa yang harus saya ketik hari ini.

Ketimbang kehabisan bahan tulisan, saya akan menulis apa yang disampaikan khutbah siang tadi. Mohon maaf jika kalimat-kalimat setelah ini terdengar seperti mencerahami. Karena memang begitulah, yang saya tulis adalah materi khutbah Jumat tadi.

Ini tentang karir dan ibadah. Robert Pagliarini dalam bukunya, “The Other 8 Hours” membagi hidup manusia dalam satu hari kepada tiga kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 8 jam. Maka, delapan jam pertama digunakan untuk bekerja, delapan jam kedua untuk istirahat, dan delapan jam ketiga? Ini bahasan buku tersebut.

Saya hanya ingin fokus pada 8 jam pertama saja: untuk bekerja. Jika diejawantah-kan dalam keseharian saya, 8 jam untuk bekerja itu di luar waktu tempuh rumah-kantor. Jika dimasukkan waktu tempuh 3-4 jam, maka setengah dari usia saya adalah untuk bekerja saja. Setengahnya lagi untuk yang lain-lain.

Dari sini, saya ingin rumuskan dua isu:

Isu pertama, tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Dengan kata lain, setiap detiknya adalah untuk ibadah. Jika tidak, manusia keluar dari jalur tujuan penciptaannya.

Isu kedua, setengah dari waktu saya tersita untuk bekerja. Setengahnya lagi untuk istirahat, keluarga, sosial, update blog dan lain-lain.

Dengan kondisi pada isu kedua, bagaimana mengaplikasikan isu pertama?

Jawabannya adalah dengan mentransformasikan semua kerjaan kita menjadi ibadah. Ada 4 hal yang perlu diketahui agar kerja yang dilakukan menjadi ibadah:

Pertama, ilmu.

Islam adalah agama para pekerja. Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Aku benci melihat pemuda yang tidak bekerja, baik untuk akhiratnya maupun dunianya.” Rasul pernah memberikan pertanyaan kepada seorang pemuda yang berada di masjid, bukan pada waktu shalat, “Apa yang engkau lakukan di sini sementara saat ini bukan waktu shalat?” Bahkan ayat Quran menyebutkan, jika sudah selesai shalat, bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah yang berarti: bekerjalah.

Maka, setiap muslim perlu mengetahui bahwa kerja yang dilakukan bisa menjadi ibadah di sisi Allah. Kerja mencari nafkah dapat menggugurkan dosa, sebagaimana hadis riwayat Thabrani, Rasul bersabda,

“Siapa yang pada sore hari kelelehan karena bekerja seharian, maka pada sore itu diampungkan dosa-dosanya.”

Dalam redaksi lain, Rasul berkata kepada para sahabat, “Sungguh diantara dosa-dosa itu ada yang tidak bisa terampunkan oleh shalat, puasa, bahkan oleh haji dan umrah.”

Para sahabat bertanya, “lantas perbuatan apa yang dapat menggugurkan dosa tersebut, Wahai Rasul?”

“Bersungguh-sungguh dalam mencari rezeki.”

Kedua, Itqân.

Kata itqân jika dihubungkan dengan pekerjaan berarti bekerja sungguh-sungguh, profesional, all out, tekun, rajin, ulet dan seterusnya. Beginilah etos kerja yang dicintai Allah. “Sesunggunya”, kata Rasul, “Allah sangat mencintai, jika salah seorang dari kalian bekerja, dia itqan akan kerjaan tersebut.”

Saya jadi teringat ucapan juara petinju kelas berat dunia, Muhammad Ali,

“You could be the world’s best garbage man, the world’s best model, it doesn’t matter what you do if you’re the best.”

Ketiga, taqwa

Takwa dalam bekerja meliputi dua hal: niat yang ikhlas dan tidak keluar dari rambu aturan syariah.

Niat adalah kunci. Alasan kita melakukan sesuatu akan berdampak signifikan terhadap pekerjaan kedepannya, bahkan terhadap hasil. Niat adalah the why nya kita bekerja. Maka untuk menjadikan kerja sebagai ibadah perlu niat yang lurus.

Kemudian pekerjaan tersebut jangan sampai melanggar aturan syariah. Hal-hal yang diharamkan dalam syariah itu jauh lebih sedikit dari apa yang dihalalkan. Maka, setiap muslim hendaknya tahu apa-apa yang diharamkan, lalu berupayan menjauhkan hal tersebut dari pekerjaan yang mereka lakoni.

Keempat, tawakkal

Kata ini adalah kunci. Kata ini tidak saja membawa kebahagiaan namun juga meminimalisir stres dengan sangat baik. Terkai takwa dan tawakal, Allah berfirman dalam QS. At-Thalaq: 2-3,

“Sesiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah berikan solusi atas segala permasalahannya dan rezeki dari tempat-tempat yang tidak pernah dia duga. Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”

Seorang sahabat Nabi, Abu Dzar Al Ghifari saat mendengar ayat ini, berkata,

“Sekiranya manusia mengaplikasikan ayat ini saja dalam hidup mereka, sungguh cukuplah bagi mereka.”

***

Antara karir dan ibadah. Hal yang terbaik adalah dengan menggabungkannya. Menjadikan karir itu ibadah dan ibadah sebagai karir. Sebab, Islam bukan agama yang berisi seremonial saja melainkan konsep hidup yang dapat diaplikasikan dalam keseharian. Supaya kita semua mendapatkan apa yang kita cari-cari selama ini: bahagia.

Demikian blog saya kali ini, terima kasih sudah berkenan diceramahi.

Bukittinggi, 6.07

Leave a Reply