December: Save The Best for The Last

Banyak momen menarik pada permulaan bulan ini. Pertama, Faris genap berusia satu tahun. Kedua, terlepas dari ikhtilaf yang ada, 1 Desember ini bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad. Ketiga, hari ini menutup November Challenge saya. Dan, keempat, bulan ini adalah bulan penghabisan di 2017.

Pertama, Faris genap satu tahun. Dan saat ini waktu terus berjalan tanpa terasa, tiba-tiba saja dia tumbuh anak-anak, remaja, dewasa dan generasi pun berganti. Hal yang paling saya takutkan setiap kali anak saya bertambah usianya adalah: saya tidak dapat memberikan keteladanan terbaik untuknya. Keteladanan, konon katanya, diambil oleh anak dari ayahnya. Apalagi anak laki-laki. Ayahnya lah teladan pertama mereka. Teladan pertama tentunya yang akan mendarah-daging kepada anak-anak. Saya sudah mengalami hal tersebut. Ayah telah menjadi teladan terbaik untuk kami. Dan itulah tantangan saya, apakah saya mampu memberkan keteladanan kepada anak saya lebih baik daripada ayah?

Kedua, hari ini adalah pula hari kelahiran Nabi Muhammad. Salawat Allah atas beliau. Saya tak ingin berdebat untuk hal khilafiyah ini: mencintai Nabi = merayakan maulid Nabi? Hanya saja, yang perlu saya perhatikan kembali adalah cara mencintai yang benar. Allah menyebutkan, jika engkau mencintai Allah hendaklah mengikuti sunnah Rasul-Nya. Maka, mencintai Rasul-Nya tentu juga demikian.

Mencintai bukan kata kerja egois. Mencintai adalah tentang bagaimana yang dicintai inginkan. Jika tidak demikian maka siapa pun bisa membuat klaim diri sebagai yang paling mencintai. Seperti pesan dalam kisah 1001 malam, Laila-Majnun, “Semua mendakwa sebagai yang paling mencintai Laila, namun Laila tidak membenarkannya. Karena yang sesungguhnya mencintai Laila adalah mereka yang Laila cintai pula.

Demikian pula dengan mencintai Rasul harus sesuai dengan keinginan beliau. Bagaimana Rasul ingin diri beliau dicinta. Seorang pemuda pernah datang kepada Rasul lalu sujud demi menunjukkan rasa cintanya. Namun Rasul melarang perbuatan tersebut. Karena bentuk kecintaan kepada Rasul harus ditunjukkan dengan cara yang beliau inginkan. Inilah yang disebut ittiba’. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk selalu mengikuti sunnah beliau.

Ketiga, November Challenge sudah selesai. Hasilnya? Secara umum, saya bisa katakan: gagal. Saya hanya bisa melakukan one day one blog hingga hari ke 21. Namun jika dilihat sisi terangnya, saya sudah berhasil menulis blog setiap hari selama 21 hari. Itu belum dimasukkan tulisan saya di jurnal pribadi yang memang tidak untuk dipublis. Setidaknya saya bisa membuat 25 tulisan selama November ini. Jujur, meskipun gagal November Challenge, saya telah berhasil membuat rekor sendiri: 24 tulisan dalam satu bulan! Fly to the moon, if you miss, at least you will fall among stars.

Dan, keempat, ini adalah bulan penghujung di 2017. Saatnya kembali kepada catatan saya pada awal tahun ini atau akhir tahun 2016 lalu. Mari cek kembali apa yang pernah saya tulis dalam New Year Resolution. Apakah saya bisa tersenyum atau menertawakan diri sendiri? Jika harus menertawakan diri sendiri, masih ada satu bulan lagi untuk memperbaiki. Seperti Ramadhan, momen terbaiknya ada pada 10 hari terakhir, kenapa tak kita simpan juga kerja terbaik pada bulan terakhir ini. Save the best for the last.

Depok, 10.01pm

Leave a Reply