Beragama Jangan Pilih-pilih

Buya Hamka pernah ditanya oleh salah satu jamaahnya,

“Buya, kita sama-sama sudah tahu, bahwa Al Quran menyebutkan solat dapat mencegah seseorang dari berbuat keji dan mungkar. Namun, fakta yang saya dapati berbeda. Saya punya dua orang tetangga. Tetangga pertama seorang pak haji, rajin ke surau, senantiasa mengaji, tak pernah ketinggalan solat jamaah. Namun, saat anak-anak sini bermain di pekarangan rumahnya, malah omelan yang keluar dari mulut pak haji.

Tetangga saya yang satunya lagi seorang dokter. Bukan orang soleh, jarang ke surau, apalagi mengaji. Satu-satunya waktu beribadah yang saya bertemu dengannya adalah solat Ied. Selain itu entahlah apa dia solat atau tidak. Namun, ketika anak-anak bermain di pekarangannya, dokter itu membiarkan mereka. Tidak seperti pak haji yang menceracau kesana kemari; dokter yang jarang solat itu malah ramah. Dimana bukti solat mencegah perbuatan keji dan mungkar, Buya?”

Buya Hamka memberi jawaban singkat namun mengena,

“Pak Haji tadi, jika dia tak solat, tak mengaji; tentu keadaannya akan lebih buruk dari yang Saudara ceritakan. Dia tidak sekedar menceracau saja, bisa disumpah serapahinya orang tua anak-anak itu, atau lebih buruk lagi, dipukulinya bocah-bocah tersebut satu persatu. Dan, dokter yang ramah itu, jika dia solat, saya yakin benar dia akan jauh lebih baik daripada yang sekarang. Mungkin tak sekedar dibiarkannya anak-anak itu bermain di pekarangan rumahnya. Bisa jadi dokter itu biayai pendidikan mereka.”

Hal serupa ini kerap kali saya temui. Ada yang solat namun berbohong nya masih jalan. Ada yang berjilbab tak henti-henti gosip. Ada yang rajin sedekah, malas solat. Ada pula yang tak pernah menutup aurat tapi akhlaknya indah. Tapi di sisi lain saya juga melihat yang lebih buruk, tidak solat dan ahli bohong, tidak berjilbab dan biang gosip, tidak sedekah tidak pula mengaji, enggan menutup aurat dan buruk lakunya.

Daftar orang-orang serupa ini bisa panjang jika ditulis. Dan bisa dipastikan nama saya  termasuk dalam list tersebut. Wajar, karena manusia tidak pernah sempurna. Tidak ada orang yang selalu baik, begitu juga tak ada yang melulu buruk. Seburuk apapun manusia, mereka masih punya kebaikan di hatinya. Sebaik apapun seseorang pasti pernah berbuat dosa. All saints have the past and all sinners still have the future, gitu katanya.

Tidak ada seorangpun, apalagi zaman sekarang, yang luput dari dosa. Rasul menegaskan, jika tidak ada lagi kaum yang berbuat dosa; Allah akan gantikan mereka dengan kaum yang berbuat dosa lalu bertobat. Allah Maha Pengampun. Allah tahu sekali kita akan banyak berbuat dosa, maka Dia bukakan pintu taubat seluas-luasnya.

Berbuat dosa bukanlah masalah. Masalah sesungguhnya adalah jika kita berbuat dosa dan berlama-lama di kubangan dosa tersebut. Lebih buruk lagi, berbuat dosa, lantas merasa berbuat baik. Dalam Surat Al-Kahfi, orang serupa ini disebut akhsariina ‘amala. Mereka yang paling merugi pekerjaannya.

Tugas setiap muslim adalah fokus pada yang baik-baik saja. Mengamalkan setiap ajaran Islam ini semampunya. Agama ini tidak seperti kulkas; yang penting isinya tak peduli luarnya bagaimana. Dalam Islam, semua sama pentingnya. Mulai dari penampilan luar hingga lintasan niat dalam hati. Semua mengambil tempat penting di mata Allah.

Maka, ucapan: yang penting hatinya yang berhijab, kepala tidak penting; adalah keliru. Karena menutup aurat dan merawat hati sama penting keduanya. Jika bisa berakhlak baik tapi belum bisa berhijab, akui saja belum bisa berhijab. Jika bisa menghindari ghibah namun masih malas-malasan solat, akui saja. Jika telah memberikan yang terbaik untuk orang tua namun masih suka merokok, akui saja. Itu lebih simpel. Kita tak perlu kasak-kusuk mencari alasan, yang penting hati, yang penting akhlak atau alasan klise rokok membantu devisa negara. Tidak ada gunanya.

Dengan mengakui kesalahan , setidaknya kita tak kena dosa dua kali: dosa melanggar aturan, dan dosa mencari legitimasi membenarkan yang salah. Dengan mengakui tersebut, setidaknya kita menegaskan bahwa yang salah itu salah dan semoga tidak ada yang mengikutinya. Sebab, kata Rasul, dia yang mencontohkan keburukan dan diikuti oleh orang lain, turut serta menanggung dosa keburukan tersebut. Maka dengan mengakui, semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk meninggalkannya suatu saat nanti.

Dalam Islam, tidak ada yang lebih penting isi atau kulit. Fisik atau hati. Semua sama pentingnya. Jalani saja semua ajaran agama ini. Dan jika belum mampu, ya sudah akui saja. Tak perlu kita pula yang memilah-milih mana yang akan saya lakukan dan mana yang tidak. Seorang mukmin itu, jika ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya telah datang kepada mereka, maka tidak ada hal lain yang lebih baik dari ketetapan tersebut. Tugas kita adalah dengar dan taati. Jika tak mampu, ya sudah, akui tidak mampu. Dan berdoa semoga Allah berikan kita kekuatan melakukannya, and work on it.

Kita tidak punya kapasitas memilih ajaran Islam mana yang dikerjakan dan mana yang tidak. Jika mau memilih juga, sama saja dengan mereka yang pernah disebut Al Quran, mengambil sebagian dari isi kitab, dan membuang sebagian lainnya.

Kerjakan ajaran Islam ini seluruhnya. Mau isinya, mau kulitnya. Mau zahirnya, mau batinnya. Jika tak mampu, ya sudah, akui saja.

Jakarta, 2.32pm

pic: lifehack.org

Leave a Reply